Pagi itu, Lynx terbangun dengan sedikit meringis. Tubuhnya terasa sakit di beberapa bagian akibat pertempuran semalam melawan binatang buas yang menyerang mereka. Ia perlahan membuka matanya, melirik ke arah Leena yang masih tertidur pulas di sampingnya.

"Leena, bangun," Lynx mengguncang pelan bahu gadis itu. "Kita harus segera membersihkan area sekitar gua ini."

Leena mengerjapkan matanya, lalu mengangguk. "Ah, ya... Kau benar. Aku juga khawatir dengan keadaan di luar."

Mereka berdua bangkit dan mulai memeriksa kondisi di sekitar gua. Lynx mengerutkan kening saat melihat jasad binatang yang tergeletak tak jauh dari tempat mereka tidur.

"Aneh, bentuknya mirip serigala tapi ukurannya jauh lebih besar," gumamnya sambil berjongkok untuk mengamati lebih dekat.

Leena menghampiri Lynx dan ikut memperhatikan. "Ya, aku juga berpikir begitu. Mungkin jenis binatang lain yang belum pernah kita lihat sebelumnya?"

Lynx mengangguk pelan. "Entahlah, tapi yang jelas kita harus waspada. Siapa tahu masih ada lagi yang berkeliaran di sekitar sini."

Mereka pun mulai membersihkan jasad-jasad binatang itu dengan hati-hati. Leena tampak sedikit enggan, tapi ia tetap membantu Lynx agar area gua terlihat bersih dan aman.

Setelah selesai, Lynx mengusap peluh di dahinya sambil berkata, "Kita benar-benar beruntung bisa memiliki racun. Sudah beberapa kali kita tertolong. Setelah ini aku akan berusaha memperbanyak lagi cairan racun agar kita bisa lebih aman."

"Benar Lynx, aku akan membantumu," jawab Leena.

"Nah, sekarang kita harus mencari sumber makanan. Kau lapar, Leena?"Tanya Lynx, yang dijawab Leena sambil mengangguk. "Ya, aku cukup lapar. Tapi aku tidak yakin bisa berburu hewan. Kita tidak terlalu mengenal area ini."

Lynx memahami kekhawatiran Leena. "Aku mengerti perasaanmu. Tapi kita nanti bisa mencoba membuat jebakan seperti di gua sebelumnya, selain untuk perlindungan, bisa kita gunakan juga untuk menangkap hewan kecil."

"Baik Lynx, tapi kamu harus berhati-hati, badanmu terlihat belum cukup sehat, ya?" jawab Leena dengan khawatir.

"Tenang saja. Badanku baik-baik saja, rasanya selama disini, badanku terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya," ujar Lynx sambil tersenyum menenangkan.

Mereka pun mulai menelusuri area di sekitar gua, mencari tumbuhan dan hewan-hewan kecil yang bisa dimakan. Leena dibantu oleh Lynx berhasil memanah seekor kelinci kecil, hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan sedikit daging.

"Lihat, Leena. Kita sangat beruntung. Bisa mendapatkan buruan disini, kurasa Ini tidak terlalu buruk, kan?" kata Lynx sambil menepuk bahu gadis itu.

Leena menghela napas lega. "Ya, kau benar. Setidaknya kita punya cukup untuk sarapan pagi ini."

Setelah mengumpulkan beberapa buah dan umbi yang aman, mereka kembali untuk membuat api unggun dan membakar daging kelinci.

Kemudian, mereka pun menikmati sarapan sederhana itu. Lynx mengunyah dengan lahap, sementara Leena makan dengan sedikit ragu. Masih tampak kekhawatiran diwajahnya terhadap serangan binatang buas semalam.

"Kurasa kita perlu melanjutkan perjalanan sambil berburu nanti," ujar Lynx di sela-sela kunyahannya.

Leena mengangguk. "Ya, kau benar. Kita tidak akan kekurangan daging untuk di makan nantinya. Aku juga akan berusaha membantu berburu agar makin ahli memanah."

"Bagus, Leena. Kita akan melakukannya bersama-sama. Aku akan membantumu agar kau semakin ahli," kata Lynx sambil tersenyum menenangkan.

Setelah sarapan, mereka berdua mulai memperkuat pertahanan gua. Lynx mengumpulkan ranting dan bebatuan, membentuk semacam tembok di mulut gua untuk menghalangi masuknya binatang buas.

"Kita harus memastikan tempat ini benar-benar aman. Siapa tahu binatang-binatang tadi masih ada yang berkeliaran di sekitar sini," ujar Lynx sambil terus menyusun bebatuan.

Leena membantunya dengan penuh semangat. "Aku akan membantu sebisaku. Kita harus bekerja sama untuk melindungi diri kita sendiri."

Saat menelusuri area sekitar, mereka menemukan beberapa batang bambu yang bisa dimanfaatkan. Lynx dengan cekatan memotong dan membentuk bambu-bambu tersebut.

"Bambu ini bisa kita gunakan untuk mengganti tabung air minum kita, kurasa sudah mulai bocor akibat sering terbentur," ujar Lynx sambil terus bekerja.

Leena mengamati dengan saksama. "Itu ide yang bagus. Aku juga bisa membuat anyaman tas ransel dari akar-akar kecil yang kutemukan. Agar kita bisa membawa bekal dan perlengkapan dengan lebih mudah."

"Wah, itu sangat membantu, Leena. Sungguh sulit melarikan diri sambil membawa tabung-tabung ini. Jika demikian, kita harus memastikan persiapan kita cukup terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan," kata Lynx sambil tersenyum puas.

Setelah beberapa saat, mereka berhasil membuat beberapa tabung air dari bambu dan tas ransel anyaman. Lynx memenuhi tabung-tabung itu dengan air segar yang ditemukan di dekat gua.

"Nah, sekarang kita punya cukup persediaan air. Ayo kita beristirahat sebentar, kita butuh tenaga untuk melanjutkan perjalanan besok," ajak Lynx.

Leena mengangguk setuju. "Ya, aku juga merasa lelah setelah semua yang kita lalui. Tapi aku senang kita bisa bekerja sama dengan baik."

Mereka berdua duduk bersandar di dinding gua, menikmati ketenangan sejenak setelah hari yang penuh tantangan. Lynx memandang Leena dengan tatapan lembut.

"Kau tahu, Leena? Aku merasa semakin dekat denganmu seiring perjalanan kita. Kau benar-benar tangguh dan aku bersyukur bisa melewati semua ini bersamamu," ujarnya tulus.

Leena balas memandang Lynx, pipinya merona. "Aku juga, Lynx. Aku senang kita bisa saling menjaga satu sama lain."

Mereka berdua tersenyum, merasakan kedekatan yang semakin erat di antara mereka.

Setelah beristirahat sejenak, Lynx beranjak berdiri dan mengulurkan tangan pada Leena. "Ayo, kita harus memastikan persiapan kita cukup sebelum melanjutkan perjalanan besok."

Leena menyambut uluran tangan Lynx dan bangkit. "Baiklah, aku siap. Kita harus memastikan kita benar-benar siap menghadapi tantangan selanjutnya."

Mereka berdua kembali memeriksa perlengkapan dan persediaan yang telah mereka persiapkan. Lynx memastikan anak panah dan busurnya dalam kondisi baik, sementara Leena memeriksa anyaman tas ransel dan tabung air mereka.

"Kurasa kita sudah cukup siap. Bagaimana kalau sekarang kita mencoba mencari sumber makanan lain di sekitar sini?" usul Lynx.

Leena mengangguk lalu mereka berdua berangkat.

Mereka pun kembali menelusuri area sekitar gua, mencari hewan-hewan kecil atau tumbuhan lain yang bisa mereka manfaatkan sebagai sumber makanan.

Setelah beberapa saat, mereka berhasil menemukan beberapa jenis burung kecil dan tikus hutan yang bisa dijadikan santapan. Lynx dengan cekatan menangkap dan membersihkan hewan-hewan itu, sementara Leena membantu mengumpulkan berbagai tumbuhan yang aman untuk dikonsumsi.

"Kurasa kita sudah cukup untuk bekal perjalanan besok. Bagaimana kalau sekarang kita beristirahat lagi?" ajak Lynx setelah mereka selesai.

Leena mengangguk setuju. "Ya, aku juga butuh istirahat. Hari ini sungguh melelahkan, tapi aku senang kita bisa bekerja sama dengan baik."

"Tapi Lynx, apa yang akan kamu lakukan dengan akar itu?"tanya Leena penasaran saat melihat lynx sedang membawa banyak akar.

"Aku menemukan akar ini memiliki keunikan sendiri.  Bentuknya kecil ringan tapi memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat daripada tali yang kita punya sebelumnya. Karena itu aku ingin membuat tali untuk berjaga-jaga nantinya." Jawab Lynx.

Setelah selesai semua aktifitas, mereka kembali duduk bersandar di dinding gua, menikmati ketenangan malam hari. Lynx memandang Leena dengan tatapan lembut.

"Leena, aku benar-benar bersyukur bisa melewati semua ini bersamamu. Aku merasa tidak terlalu buruk situasi di hutan ini berkat adanya dirimu," ujarnya tulus.

Leena balas memandang Lynx, pipinya merona. "Aku juga, Lynx. Kau sudah menjadi orang yang sangat berarti bagiku. Aku tidak tahu bagaimana jika tidak ada dirimu di sini."

Mereka berdua tersenyum, merasakan kedekatan yang semakin erat di antara mereka. Meski masih banyak tantangan yang menanti, kini mereka merasa lebih siap menghadapinya bersama-sama.

Setelah beristirahat cukup, Lynx dan Leena mulai mempersiapkan diri untuk tidur. Mereka saling membantu memeriksa kondisi masing-masing, memastikan tidak ada luka yang parah.

"Kau yakin kau baik-baik saja, Leena?" tanya Lynx dengan nada khawatir.

Leena mengangguk. "Ya, aku tidak apa-apa. Kau juga, Lynx? Apa lukamu masih terasa sakit?"

"Sudah tidak terlalu buruk. Berkat bantuanmu, aku merasa lebih baik," jawab Lynx sambil tersenyum.

Mereka pun berbaring berdampingan, saling menjaga satu sama lain. Meskipun masih merasakan kelelahan, Lynx dan Leena merasa lebih tenang dan terlindungi.

"Selamat malam, Leena. Semoga kita bisa melanjutkan perjalanan dengan baik besok," ucap Lynx pelan.

"Selamat malam, Lynx. Aku juga berharap kita bisa terus berjuang bersama-sama," balas Leena sebelum akhirnya mereka berdua terlelap.

Keesokan paginya, Lynx dan Leena melanjutkan perjalanan mereka menuju gua di sebelah barat. Hutan di sekitar mereka tampak lebih tenang dibandingkan hari sebelumnya, tidak ada tanda-tanda binatang buas berkeliaran.

Tiba-tiba, mereka mendengar suara air mengalir di kejauhan. Lynx menghentikan langkahnya dan menajamkan pendengarannya.

"Leena, kau dengar itu? Sepertinya ada air terjun di dekat sini," ujar Lynx.

Leena mengangguk. "Ya, aku juga mendengarnya. Apakah Chiko ada menyebutkan soal air terjun ini?."

"Tidak ada, mungkin tidak semua jalur dia ingat untuk ceritakan," sahut Lynx.

Mereka berdua bergegas mengikuti arah suara air. Semakin dekat, suara gemericik air semakin jelas terdengar. Akhirnya, mereka tiba di tepi sebuah sungai yang dipadati oleh bebatuan besar, dengan air terjun yang mengalir deras di ujungnya.

"Wah, air terjunnya indah sekali," gumam Leena sambil memandang takjub.

Lynx mengangguk. "Ya, tapi kita harus berhati-hati. Arus sungainya tampak cukup kuat, apalagi di dekat air terjun."

Mereka pun berjalan menyusuri tepian sungai, mencari tempat yang aman untuk menyeberang. Tiba-tiba, Leena kehilangan keseimbangan dan terperosok ke dalam lumpur hisap yang ada di tepi sungai.

"Aaah!" jerit Leena panik saat merasakan tubuhnya tenggelam dalam lumpur yang semakin menariknya ke dalam.

Lynx segera bergerak cepat, berusaha meraih tangan Leena. Namun, dalam kepanikan, Lynx tanpa sengaja melepaskan semua bawaannya, termasuk tabung air dan tali yang tadi dibawanya.

Lynx yang berusaha menarik tangan Leena justru ikut tenggelam ke dalam lumpur. Mereka berdua merasa panik, berusaha keluar dengan meronta-ronta, dan lumpur itu semakin cepat menghisap mereka.

"Leena, jangan banyak bergerak! Lebarkan kakimu dan tetap tenang!" seru Lynx tiba-tiba dengan panik.

Leena menuruti instruksi Lynx, mencoba melebarkan kakinya selebar mungkin untuk mengurangi beban tarikan. Meskipun lumpur terus menarik mereka, gerakan mereka sedikit lebih lambat.

Sementara itu, Lynx berusaha mengambil tali yang tadi dijatuhkannya, namun tali itu cukup jauh dari jangkauannya. Ia pun menoleh ke arah Leena.

"Leena, di dekatmu ada ranting, coba ambil dan berikan padaku!" pinta Lynx.

Leena mengangguk, lalu dengan susah payah meraih ranting yang ada di dekatnya. Ia memberikan ranting itu pada Lynx, yang kemudian menggunakannya untuk menjangkau tali.

Setelah berhasil mendapatkan tali, Lynx segera membentuk simpul laso di ujungnya. Dengan hati-hati, ia mulai melemparkan tali itu ke arah bebatuan besar di tepi sungai, berusaha mencari pijakan yang kuat.

Berkali-kali Lynx mencoba, tapi tali itu belum bisa mencapai bebatuan yang diinginkan. Kondisi mereka semakin memburuk, lumpur sudah mencapai batas leher, membuat pernapasan mereka semakin sulit.

"Sial, aku harus bisa melemparkannya!" geram Lynx putus asa.

Leena menahan napas, air mata ketakutan mengalir di pipinya. "Lynx, aku... aku tak tahu apa yang harus kulakukan..."

Lynx menoleh ke arah Leena, berusaha menenangkannya. "Jangan menyerah, Leena! Kita pasti bisa keluar dari sini. Pegang erat tali ini, aku akan terus berusaha."

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Lynx kembali melemparkan tali laso itu. Kali ini, tali itu berhasil melingkari salah satu bebatuan besar dengan kuat.

"Leena, pegang erat-erat tali ini!" seru Lynx.

Leena segera meraih tali itu dan mencengkeramnya sekuat tenaga. Lynx juga memegang ujung tali itu, lalu mulai menariknya perlahan-lahan.

Proses penarikan itu sangat menegangkan. Lumpur hisap seakan tak mau melepaskan mereka, tapi Lynx dan Leena terus menarik dengan sekuat tenaga. Keringat bercucuran di wajah mereka, napas terengah-engah.

Akhirnya, setelah perjuangan yang melelahkan, Lynx dan Leena berhasil keluar dari lumpur hisap itu. Mereka terjatuh di tepi sungai, terengah-engah namun lega.

"Kita... kita berhasil," ucap Lynx dengan napas tersengal.

Leena mengangguk lemah, air mata lega mengalir di pipinya. "Terima kasih, Lynx... Terima kasih sudah menyelamatkanku."

Tanpa sadar, Lynx dan Leena saling menatap satu sama lain. Suasana menjadi hening sejenak, sebelum akhirnya mereka perlahan-lahan mendekatkan wajah dan...Mereka berciuman dengan lembut, seakan melupakan segala kengerian yang baru saja mereka alami. Setelah beberapa saat, mereka pun melepaskan diri, wajah keduanya memerah karena malu.

"Aku... aku minta maaf," ucap Lynx pelan, menghindari kontak mata dengan Leena.

Leena tersenyum malu-malu. "Tidak apa-apa, Lynx. Aku... aku mengerti."

Suasana canggung menyelimuti mereka, namun di balik itu, tersirat perasaan bahagia yang meluap-luap. Setelah menenangkan diri karena berhasil keluar dari lumpur hisap yang sempat menyerang mereka, Lynx dan Leena segera memeriksa kondisi tubuh masing-masing. Namun, betapa terkejutnya mereka ketika menyadari ada lintah-lintah yang menempel di kulit mereka.

"Astaga, ada lintah di badanku!" pekik Leena panik, berusaha melepaskan makhluk-makhluk lengket itu.

Lynx pun tak kalah kaget. "Aku juga! Sial, kenapa bisa ada lintah di sini?" gerutunya.

Keduanya berusaha melepaskan lintah-lintah itu, namun ternyata cukup sulit. Lintah-lintah itu tampaknya sudah menancap dengan kuat.

"Bagaimana ini, Lynx? Aku tak bisa melepaskannya," ujar Leena frustasi.

Lynx tampak berpikir sejenak, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Tunggu sebentar, Leena. Aku punya ramuan yang cocok, bisa membantu melepaskan lintah ini."

Dengan cekatan, Lynx mengambil salah satu ramuan dari bawaannya, lalu mengoleskannya perlahan-lahan ke lintah yang ada di tubuh Leena. Ajaibnya, lintah-lintah itu pun mulai melepaskan diri dan jatuh ke tanah.

"Wah, ramuanmu benar-benar ampuh, Lynx!" seru Leena takjub.

"Apakah semua lintah sudah lepas dari tubuhmu, Leena?" Tanya Lynx.

Leena segera memeriksa kembali tubuhnya dan wajahnya langsung memerah. Ternyata masih ada beberapa lintah yang menempel di paha bagian dalamnya dekat dengan alat vitalnya, dan ada juga yang menempel pada salah satu dari kedua gunung kembarnya.

"Leena, apa kamu baik-baik saja?," tanya Lynx yang melihat perubahan ekspresi Leena.

Leena kebingungan menjawabnya, lalu berkata, "Masih... Masih ada ternyata ditubuhku."

"Baiklah, sini kuolesi lagi biar terlepas semua lintahnya," kata Lynx sambil mempersiapkan diri mengolesi.

"Tidak Lynx, yang ini biar aku sendiri saja yang melepasnya," jawab Leena sambil mengambil ramuan dari tangan Lynx, lalu dia meminta Lynx jangan melihatnya.

Lynx yang bingung, mengikuti permintaan Leena untuk berbalik, namun karena penasaran, dia mengintip dan tertawa. Melihat posisi gerakan Leena, Lynx bisa menebak dimana lintah itu berada sehingga Leena tidak mau dibantu.

Leena merasa wajahnya panas saat merasa ditertawakan oleh Lynx. Setelah selesai, dia mencubit lengan Lynx dengan cemberut.

"Wach aku kalah sigap dengan lintah itu, duluan mereka menyentuh tubuhmu," kata Lynx sambil tertawa meringis merasakan cubitan Leena.

Leena makin memperkeras cubitannya karena merasa malu dengan candaan Lynx.

"Sudah Lynx, aku tidak mau membahas hal ini, sungguh memalukan," kata Leena.

"Baiklah Leena, aku hanya bercanda. Syukurlah kalau kamu sudah melepas semua lintah itu. Sekarang giliran aku, tolong oleskan juga ke tubuhku."

Leena mengangguk, lalu dengan hati-hati mengoleskan ramuan itu ke seluruh tubuh Lynx. Satu per satu, lintah-lintah yang menempel pun mulai terlepas.

Setelah memastikan tidak ada lintah lagi di tubuh mereka, Lynx dan Leena segera bergegas mencari sungai atau danau untuk membersihkan diri dari lumpur yang menempel. Mereka harus berhati-hati, karena di sekitar sungai sering muncul buaya.

"Kita harus ekstra waspada, Leena. Jangan sampai ada buaya yang menyerang kita," pesan Lynx.

Leena mengangguk. "Aku mengerti, Lynx. Kita harus benar-benar berhati-hati."

Dengan langkah perlahan, mereka mendekati sungai yang ada di dekat sana. Meski sedikit canggung, Leena tak menolak saat Lynx menawarkan untuk membantunya membersihkan diri.

"Biar aku yang menggosok punggungmu, Leena. Agar lumpur-lumpur itu bisa hilang," ucap Lynx hati-hati.

Leena mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Terima kasih, Lynx."

Lynx pun mulai menggosok punggung Leena dengan lembut, membersihkan sisa-sisa lumpur yang menempel. Meskipun merasa malu, Leena membiarkan Lynx melakukannya. Toh, ia sudah terbiasa berdua dengan Lynx dan merasa Lynx sudah biasa melihatnya tanpa pakaian.

Setelah selesai membersihkan diri, Lynx dan Leena bergegas menjauh dari sungai, takut jika ada buaya yang muncul. Mereka pun mencari tempat yang aman untuk beristirahat sejenak.

"Kita harus lebih berhati-hati lagi mulai sekarang," ujar Lynx.

Leena mengangguk setuju. "Ya, aku tidak mau terjebak dalam bahaya seperti tadi lagi."

Mereka berdua duduk bersandar di bawah sebuah pohon besar, menenangkan diri setelah melewati pengalaman mengerikan itu. Perjalanan mereka masih panjang, tapi kini Lynx dan Leena semakin yakin akan bisa melewatinya bersama-sama.
